Sabtu, 23 Maret 2013

HIDUP INI PILIHAN



Pagi ini aku dapat sms dari seorang teman yang meminta bantuanku untuk mencarikan ikhwan untuk seorang seniorku. Cerita punya cerita, senior akhwatku ini sudah beberapa kali ta’aruf namun gagal katanya. Pas aku Tanya alasannya apa, temanku ini juga tidak begitu jelas. Tapi menurut pandangannya pribadi adalah karena senior akhwat ini sudah cukup mapan hidupnya dan syaratnya gak neko-neko. Cukup mau tinggal di daerah akhwat tersebut berhubung akhwat tersebut menetap dan bekerja di daerah tersebut.
Hm…apa hendak dikata jika begitu kondisinya. Aku hanya bisa bilang bersabar dan kalau jodoh takkan kemana. Yah, kemudian temanku pun mengatakan bahwa sang akhwat sudah didesak oleh kedua orang tuanya untuk segera menikah. Ini perihal yang sulit menurutku.
Tentang jodoh adalah allah yang mempunyai ketetapan. Siapa dia dan bagaimana dia adalah wilayah kerja allah. Ketika sudah berusaha namun belum rezkinya, sebagai makhluk kita hanya bisa bersabar dan bersabar. Hanya saja yang ku pikirkan adalah seperti serba salah. Lha, ya beruntunglah jika salah seorang dari pada pasangan adalah orang yang aktif dan kreatif. Nah, pasangan yang merasa tidak memiliki kemampuan yang sama dengan pasangannya harusnya bukan minder atau bahkan mundur. Harusnya, dengan segala keterbatasan yang ada, harus bisa terbuka dan kemudian berkomitmen untuk mengejar ketertinggalan ini untuk menyamakan kemampuan.
Ini bukan hanya cerita tentang seniorku yang punya kegelisahan terhadap jodoh. Tapi ada juga yang karena gelisah masalah jodoh akhirnya mengabaikan amanah yang diembankan padanya. Cerita seorang ikhwan yang tengah menanti pasangan. Karena hal itu beliau terlihat disibukkan dengan mencari nafkah yang kemudian menyebabkan amanah yang diberikan padanya terabaikan.
Cerita lain tentang seorang akwat dan ikhwan yang gelisah karena belum juga mendapatkan pekerjaan. Sementara gelar sarjana, gelar magister telah disandangnya. Tapi belum mendapatkan pekerjaan. Akhirnya kesana kemari dan mendengarkan perkataan orang tentang dirinya. Hal ini menyebabkan semangat dakwah menurun. Juga tentang seorang yang tengah menyelesaikan ugas akhir. Toh masih semester wajar untuk mengerjakan skripsi, sudah melebihi orang yang hampir drop out. Sampai-sampai frustasi. Padahal ada juga teman yang sudah hampir habis masa studinya tak kunjung selesai santai saja. Bukan berarti menyepakati hal yang demikian, lihat sisi positifnya saja.
Ketika diberi pilihan untuk hidup, maka jalanilah hidup yang sementara ini. Hidup jelas memberikan banyak tawaran yang mengkin positif atau negatif. Namun sekarang bagaimana kita untuk memilih diantara dua tawaran ini. Baik atau buruk? Berpikiran positiflah pada allah yang maha berkendak. Sekalipun kita telah berusaha untuk memaksimalkan hidup ini, jika allah tidak berkendak untuk langsung memberikan jawaban atas semua permasalahan kita itu maka tidak akan pernah terjadi. Bisa jadi, allah belum memberikan jawaban atas segal agelisah kita itu karena allah tahu kita belum siap untuk menerima jawabannya. Mungkin kita akan menjadi orang yang tak tahu bersyukur bila telah diberikan jawaban dan sebagainya. Wawlahualam.

1 komentar:

  1. bagaimana dengan yang sedang disibukkan dengan amanah, sampai melupakan kebutuhan ataupun sebut saja kewajiban pribadinya?? namun kewajiban itupun juga tidak hanya sekedar untuk kebutuhan pribadinya saja..akan tetapi juga sebagai sarana untuk membantunya agar semakin kuat diamanahnya..
    faktornya bukan hanya karena dia sangat mencintai amanahnya, tapi adalah karena tidak ada lagi yang lain yang bisa mengerjakannya..bagaimana?? harus pilih yang mana??

    BalasHapus

Udah baca kan? Kasih komentar ya biar kedepannya makin baik lagi. Terima kasih.