Senin, 16 Desember 2013

Papua euy



Mendengar kata Papua hari itu benar-benar membuat aku ragu untuk mengabdi disini. Apalagi lanny Jaya. Nama yang belum pernah ku kenal. Lagian tidak ada di peta Papua. Maklum, ini daerah pemekaran.
Banyak berita-berita di televisi menceritakan tentang kekejaman dan kekerasan yang ada di Papua. Hal itulah yang membuatku semakin takut untuk datang kemari. Tapi setibanya di Lanny Jaya, suasana hatiku tidak setakut waktu masih berada di Riau. Tentunya karena sambutan Pemerintah Kabupaten. Apalagi melihat antusias masyarakat terhadap guru. Waktu disodorkan film Di Timur Matahari, aku sudah bisa menerka bahwa daerah sasaranku memang daerah yang ada di film itu. Keadaan yang ada memang keadaan nyata. Aku harus siap dengan itu semua.
Perjalanan menuju Lanny Jaya cukup melelahkan. Tapi untungnya ada si kamera. Jadi bisa jeprat-jepret deh dimanapun. Kalau berangkat dari tempatku, tiga kali naik pesawat. Rutenya Bandara Sultan Syarif Qasim (Pekanbaru-Riau) menuju Soekarno Hatta (Jakarta) selama 1,5 jam. Berangkat jam 20.30 Wib dan tiba sekitar 21.30. persiapan turun dari pesawat hingga transit tidak memakan waktu yang lama. Langsung saja Karen hari sudah malam dan penerbangan lanjutan adalah penerbangan terakhir menuju Papua.
Waktu masuk ke dalam pesawat menuju Papua, suasana langsung berubah. Kalau sebelumnya pesawat tercium lebih alami, palingan juga bau keringat penumpang. Kalau di dalam pesawat menuju Papua, suasana lebih menyeramkan. Orang-orang yang ada di dalamnya kulitnya lebih gelap. Rambutnya agak-agak keriting. Baunya, bau apek alias seperti apa ya…pokoknya bau-bau orang timur gitu deh. Bahasanya lagi lebih keras.
Sempat aku merasa takut tapi berhubung sudha lelah, aku gak ambil pusing. Langsung tidur saja. Eh, pas terbangun untuk subuh sekitar jam 3, sudah agak terang. Baru beberapa jam rasanya duduk di dalam pesawat sudah pagi. Yah, namanya juga selisih waktunya 2 jam.  Jam 4 WIT sudah terang dan katanya sebentar lagi tiba di Bandara Sentani – Jayapura.
Bandara Sentani tidak begitu besar. Banyak orang ngantri ngambil bagasi.  Kami pun cepat-cepat mengambil bagasi karena pesawat lanjutan menuju Wamena tak lama lagi. Bagasi ke Wamena cuman bisa 15 kg. jadilah aku bongkar-bongkar barang di Sentani. Eh, pesawat ternyata di Lay. Malah katanya keberangkatan hari ini ditiadakan karena pilot sakit. Sempat bingung. Kalau capek, capek sekalian sampai tujuan. Akhirnya semua terlantar dan tiduran di lantai luar bandara. Orang-orang lalu lalang membeli tiket da nada juga yang protes karena keterlambatan penerbangan hari itu.
Entah bagaimana, akhirnya berangkat juga jam 15.00 WIT. Itu pun nunggu dan menunggu. Eh, pesawatnya kecil. Mana tidak ada nomor kursi. Berebutan gitu. Ini kali pertama naik pesawat amburadul sistemnya. Bodoh amat yang penting bisa duduk.
Secara umum, kita semua papua adalah daerah mayoritas Non muslim. Bagaimana aku yang seorang muslimah akan hidup disana? Itulah yang menjadi salah satu kekhawatiran terbesarku. Belum lagi jilbabku yang besar begini. Melihat orang dengan kulit sawo matang sepertiku saja mungkin sudah aneh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Udah baca kan? Kasih komentar ya biar kedepannya makin baik lagi. Terima kasih.