Kamis, 11 September 2014

Menjadi Gurunya Manusia



Tugas kami adalah mengajar. Tapi sebagai pengajar, kami tidak boleh berhenti belajar. Karena itu, kami senantiasa belajar dan belajar untuk terus meningkatkan kemampuan kami dalam pengabdian ini.
Pertama kali tiba di tempat ini, hanya satu kalimat yang senantiasa ku ingat, “Guru-guru ini harus dikasih hidup.” Ya Tuhan, apakah ini pertanda bahwa daerah ini  begitu ekstrim seperti kata-kata orang kebanyakan? Tanyaku dalam hati. Sekalipun begitu, aku dan teman-teman yang ditugaskan di SD Inpres Poga terus memompa semangat kami lahir maupun batin. Kami harus memberikan yang terbaik untuk anak bangsa. Sebagaimana tujuan kami Maju bersama mencerdaskan Indonesia.

Mengandalkan yang ada
Di saat anak-anak mulai belajar mengeja kemudian membaca, terus menulis dan menghitung, kami juga belajar, mempersiapkan pelajaran untuk waktu-waktu selanjutnya. Kami tidak berpikir untuk bantuan dari luar. Kami hanya memikirkan bagaimana anak-anak bisa belajar lebih baik dan banyak sekalipun dalam keterbatasan. Tanpa melupakan aslinya diri mereka, kami harus menjadikan mereka lebih baik dari pada sekarang.
Kami hanya mengandalkan indera yang diberikan oleh Tuhan. Begitupun media pendukung. kami hanya mengharapkan alam yang terus dan terus memberi kami inspirasi. Sembari anak belajar, kami pun belajar menjadi guru yang kreatif.
Sekolah ini seakan terputus dari akses kemajuan, tidak ada sinyal dan letaknya yang begitu jauh dari pusat kabupaten. Anak-anak belajar matematika menggunakan jari yang dimiliki dan juga berewak (semacam bambu yang diameternya kecil). Berewak ini dipotong-potong seukuran ruas jari. Inilah alat yang digunakan dalam menghitung penjumlahan, pengurangan, perkalian dan juga pembagian.
  Ada lagi pelajaran sains. Sekalipun secara kurikulum, anak-anak mungkin harus bekerja keras untuk bisa mengikuti kurikulum nasional, tapi tidak membuat patah semangat. Setiap hari, pelajaran di sekolah diselingi pelajaran sains yang menarik. Anak-anak diajak untuk praktek langsung.
Pengenalan indera tubuh dan fungsinya pada anak kelas dua dilakukan dengan cara melibatkan mereka yang menjadi sebagai peraga yang ditutup matanya, kemudian diminta untuk menebak benda yang dipegang.. dicium dan dirasa. Ada juga pengenalan wujud benda yaitu dengan cara membawa banyak benda ke dalam kelas dan memindah-mindahkan tempatnya untuk perubahan bentuknya. Disamping itu., untuk mengenalkan teknologi, pembelajaran di dalam kelas terkadang dilakukan menggunakan laptop yang dihubungkan ke monitor flat yang berfungsi sebagai infokus.
Paling tidak, usaha yang dilakukan ini membuat antusias anak dalam belajar semakin bertambah dan  bisa sedikit mengobati rasa rindu mereka untuk berkembang dengan pesat.
Untuk mengenalkan cuaca, anak diajarkan untuk tidak melihat cuaca untuk pergi ke sekolah karena bisa jadi langit gelap karena mendung bukan karena hari masih pagi dan matahari belum terbit. Mereka juga membuat taman, mengajarkan caranya mencintai lingkungan sekalipun alam Papua masih sangat hijau.
Potensi mereka banyak
Tak pernah terpikirkan untuk hal-hal yang muluk. Yang kami tahu, setiap anak adalah hebat dengan potensinya masing-masing. Inilah anak-anak kami. Kami ajarkan semuanya. Tapi tentunya mereka punya jalurnya masing-masing.
Ada anak yang matematilka-logic dan linguistiknya baik. Setiap ku minta menuliskan cerita, ia tak mengeluh. Ada As yang sekarang duduk di kelas enam dan juga Juluge (kelas 2). Mereka adalah kontributor tetap untuk buletin sekolah dan juga karya mereka yang sering ku kirimkan ke media lain.
Ada anak yang matematika-logic dan linguistiknya biasa-biasa saja tapi memiliki kemampuan spatial-virtual yang baik. Namanya Diles dan juga kelas dua. Ada lagi anak yang linguistiknya kurang namun kinestetik. Dialah penjaga gawang terbaik, namanya Yusman (Kelas 3) dan juga Amitera (Kelas 2) yang suka menari dan berlenggok. Ditambah kemampuan-kemampuan lainnya yang perlahan kami para guru coba salurkan.
Yah, jelas saja. Sebagai guru yang terus belajar, kami berusaha untuk terus memperhatikan anak kami dengan baik. Mereka anak asli Papua dengan segala potensinya. Mereka juga anak Indonesia. Begitupun kami, guru yang terus belajar, belajar menjadi gurunya manusia. Guru yang selalu memotivasi anak-anaknya untuk lebih maju tanpa mengabaikan perlakukan sebagaimana tabiat anak-anak itu.

Martina Eka Desvita, S.Pd
Guru SM-3T SD Inpres Poga, Kabupaten Lanny Jaya, Papua
NB:
Maaf pembaca, gambar2nya lum bisa ditampilkan karena sesuatu. Tapi ini ada gambar publikasi di medianya. Majalah World Papua edisi Juni 2014.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Udah baca kan? Kasih komentar ya biar kedepannya makin baik lagi. Terima kasih.