Senin, 11 April 2016

Talkshow n NObar KMGP Bareng Helvi Tiana Rosa

Terlampau sibuk entah aku yang sok sibuk sampai-sampai tak ada postingan terbaru dalam beberapa waktu ini. Yah, gak tau juga ya. Biasalah, mau posting tulisan tapi tulisannya belum diketik. Kalau langsung diketik di halaman blog khawatir aku malah sibuk mencari informasi lain di internet.
Hari ini aku mau menceritakan tentang beberapa kisah yang kualami.
Allahuakbar! Acara Talkshow dan Nonton bareng Bersama Bunda Helvi Tiana Rosa di Pekanbaru pada tanggal 12-13 Maret 2016 di Pekanbaru berjalan dengan lancar. Alhamdulillah. Terlebih alhamdulillahnya lagi, aku bisa mengontrol emosi dengan baik saat itu. Biasalah, namanya juga kerja tim pasti ada gontok-gontokan dan gak enakan. Mau marah? Pernah. Tapi kuingat-ingat gak ada gunanya marah-marah. Mau nangis? Jelas, aku ini aslinya cengeng. But, i was be able to control all of my emotion. Alhamdulillah.
Kecurigaan itu sempat terjadi dari awal persiapann hingga hari H. Tapi, tetap positif thingking pada allah karena semua terjadi atas kehendak allah setelah manusia berusaha secara maksimal.
Sabtu pagi aku sudah di bandara Sultan Syarif Qasim (SSQ) buat menjemput bunda HTR. Sesak banget nih nafas karena beberapa hari sebelumnya stand bye dalam persiapan mulai dari mengantar tiket, membagi brosur hingga mencari dana. Alhasil, yah kejar-kejaran dengan waktu. Alhamdulillahnya, aku tetap sehat. Alhamdulillah terus ajah.
Dari bandara bingung mau ngantar kemana. Jadwal sudah ada tapi di lapangan harus berubah karena bunda HTR maunya yang santai-santai aja. Jadilah bawa beliau ke tempat sarapan soto di Paus. Nah, itu setelah bolak balik nelpon Mbak Sugi dan Bang Alam buat nyari tempat sarapan. Sekitar jam 8 begitu ternyata banyak tempat sarapan yang belum buka termasuk tempat sasaran. Soto Pak Imam. Jadinya dibawa ke tempat lain.
Sewaktu nungguin bunda HTR sarapan, aku bolak balik nanyain kondisi peserta di UIN sama Suci. Setelah itu acara di UIN. Sesampainya di UIN, ternyata giliranku buat nyampaikan kata sambutan. Shock, sesak nafas, kaki agak sakit-kebetulan sengaja pakai sepatu karet bertumit sedikit. Syukur, aku tetap bisa tersenyum. Meski ketika baru nyampai melihat kondisi ruangan sepi. Sementara ruangan begitu besar dan langsung harus memberikan kata sambutan. Aku harus bisa mengontrol diri agar yang lain tetap semangat.
Begitu bunda HTR masuk ruangan bersama para sastrawan, ya allah. Asli sebenarnya mau nangis but i still stand up in front of them. Aku masih memberikan kata sambutan. Kubiarkan sampai bunda HTR duduk baru sambutan kulanjutkan. Jujur, aku malu juga sebenarnya. Tapi kulihat wajahnya bunda HTR tersenyum. Cukup. Itu sudah cukup memberikan semangat manakala aku tak sanggup menatap mata-mata lain yang berharap lebih lewat acara ini.
Selesai sambutan, ada telepon dari Bu Luluk tentang persiapan acara makan malam. Bu Luluk tuh nanyanya agenda makan malam duluan. Sementara, agenda yang lebih dekat sebentar lagi adalah roadshow di Abdurrab. Susaaaah....intinya susah banget berurusan. DI telpon lagi sibuk, si sms belum jawab. Waktu terus berjalan.
Apa ya, aku mau bilang. Semua-semuanya aku harus berpikir dan bertindak cepat. Buku bunda HTR mana belum dibuka. Aku kudu nanyain harga jual lalu membukanya dan memastikan yang jaga bener-bener jaga tuh buku.
Ada yang nyetor uang juga buat agenda upgrading dan diskusi malam internal FLP. Aku pegang uang acara juga. Meski pesertanya sedikit, aku tetap positif thingking bahwa allah punya maksud dan tujuan tersendiri. Agar hambanya lebih mendekatkan diri kepadaNya.
Aku juga turut malu sebenarnya karena mendesak bunda HTR buat cepat-cepat udahan dengan fansnya buat foto-foto dan tandatangan karena jam sudah melewati jadwal yang disusun. Harus berangkat menuju agenda selanjutnya. Roadshow di Abdurrab.
Luar biasanya, Pak Bambang, Bu Julina dan Rifda selalu stand bye buat membawa bunda HTR mulai dari makan siang sampai acara di Abdurrab. Kupikir sampai Abdurrab tinggal mula acara aja karena jam setengah dua sudah harus di sana. Ternyata apa? Kosong. Ruangan acara bahkan belum dibuka. Aku juga harus menagih uang dari anak-anak buat nobar esoknya. Mana sebagian lagi belum dibayar Bu Susi lagi. Uh, keringat dingin. Enggak. Rasa-rasa panas sekujur tubuh. Harus kuat. Allah yang bantu.
Hampir satu jam, bunda HTR dan Mbak Sugi dititipkan di ruangan rektor. Sementara itu, Kak Dian kucar kacir cari masa. Aku sibuk ngurus uang yang harus ditagih. Kayak ngemis lho. Maaf. Aku ngerasa kayak aku yang minta-minta. Ga papa. Dalam hati aku menyenangkan diri sendiri untuk fokus pada kerja ikhlas agar allah bayar dengan surgaNYa.
Meski masih sedikit, acara berjalan lancar sampai satu per satu terus berdatanga. Acara sangat-sangat molor. Jangankan bunda HTR, aku pribadi membenci acara yang molor. Teringat kata-kata bunda HTR yang sempat membuat dadaku sesak. Beliau mengatakan bahwa beliau intinya lelah. Agenda makan malam dengan Bu Susi aku minta alihkan ke hotel saja. Berhubung tak ada jawaban akhirnya aku anggap batal. Menyusul, sms dari Bu Luluk bilang kalau makan malamnya dibatalkan. Ya sudahlah. Bunda HTR juga harus istirahat.
Setelah dari Roadshow, sebelum balik hotel masih ada jadwal buat siaran di Robbani. Aku percayakan perjalanan ini kepada Ani, Afifah dan kawan-kawan. Aku harus mengurus hotel dan memastikan ruangan buat acara malam. Kali ini bunda hTR harus nyaman.
Aku melaju menuju hotel Zaira. Alhamdulillah tidak ada masalah. Aku pastikan semuanya yang ada di kamarnya dalam keadaan baik. Aku pun kembali ke kamark untuk menghitung uang acara dan lain-lain. Malamnya sungguh menyenangkan karena ada penyegaran dalam upgrading yang memang puncak yang ditunggu-tunggu anggota FLP.
Besoknya, nobar di XXI Cinema. Pagi lagi aku sudah ke rumah Della buat menjemputnya karena ia bertugas sebagai supir pribadi gratisan pagi ini. Bunda HTR mengirimkan Wa kepadaku dan bilang bahwa beliau sakit perut. Jadi aku belikan beliau nasi uduk. Kami pun kelaparan dan akhirnya makna nasi uduk juga. Cuman bedanya, kami makan di bawah dan bunda HTR makan di dalam kamar.
Aku mikir, kayaknya kami durhaka deh. Bunda HTR dibiarkan sendir tanpa ada pendamping. Sementara hendak berjalan, bunda nungguin kami rupanya di dalam kafe. Maaf bunda. Maaf banget atas ketidaknyamanan bersama kami. Akhirnya kami cus ke bioskop. Apa yang terjadi?
Banyak penonton yang belum datang. Tiket sih sudah terjual habis. Tapi orangnya nih entah dimana. Masa Abdurrab banyak yang belum datang. Film sudah harus mulai. Aku benci dengan salah seorang petugas di bioskop itu. Ga ramah dan ga enak banget pelayanannya. Paling ga yang baik-baik dikit gitu ngomongnya.
Film pun mulai. Kami pun masuk. Setiap lima menit sekali aku melongok ke belakang memperhatikan penonton. Ga ramai seperti nobar hari itu yang sampe ke bawah-bawah. Yang penting Sekda kota dan para sastrawan sudah datang dan menonton film baik ini.
Selesai film kan masih pada sibuk foto-foto tuh. Kali ini aku ga mau mendesak bunda buat cepat-cepat karena agenda selanjutnya juga belum jelas. Yang ngajak makan siang dimana dan bagaimana sistemnya. Akhirnya, bunda ngajak nongki-nongki canchi. Untung Della pandai banget dan tau banget Pekanbaru. Pikiranku maish kacau jadi dia yang atur semuanya.
Kami nongkrong deh dan menikmati minuman di Tsurabi Enhaii Sudirman. Bunda yang bayar. Makash bundaaaa....Selesainya kami langsung antar bunda ke satu rumah makan untuk bertemu tokoh. Sementara bunda bareng ketua FLP, aku dan Della mutar nyari makan siang dan bertemu dengan mereka di bandara.
Tugas kami selanjutnya adalah mengeluarkan semua barang-barang bunda. Minta tandatangan di buku dan foto-foto cantik karena belum sempat banyak foto sewaktu acara. Panitia kan gitu ya. Belakangan. Jam 3 bunda masuk ruang tunggu dan kamipun cipika cipiki. Say good bye to bunda. Daaahhh bundaaaa....maafkan kami belum bisa melayani dengan baik. Safe flight n see you in the next time.

#latepost
#kmgpthemovie
#flpriau
#semangat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Udah baca kan? Kasih komentar ya biar kedepannya makin baik lagi. Terima kasih.