Jumat, 25 November 2016

Guru dan Menulis

Oleh : Kavita Siregar (Martina Eka Desvita Siregar)

“Seorang Alim yang Rabbani, adalah dia yang mengajari manusia ilmu yang sebesar-besarnya hingga sekecil-kecilnya.” (‘Abdullah Ibn ‘Abbas, Radiyallahu ‘Anhu)

Agaknya kalimat di atas adalah sebuah motivasi tersendiri bagi kita para guru. Bukan hanya para guru yang mengajarkan ilmu di bangku pendidikan formal mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Tapi juga bagi para guru di kehidupan ini. Labelnya adalah Alim yang Rabbani. Dialah yang mengajarkan ilmu dan mendidik dengan ilmunya untuk senantiasa semakin mendekatkan diri kepada Sang Penciptanya. 

Guru dan sekolah
Jika menyebutkan ‘guru’ dalam tataran profesinya sebagai pendidik di sekolah, tentu sangat beruntung jika guru tersebut dapat menjadi teladan yang baik bagi siswanya, mengajarkan ilmu dengan senantiasa mengingatkan pada kebaikan. Bak dikata, ilmu dapat, akhlak pun selamat. Dialah guru yang tidak hanya mentransfer ilmu tapi juga mendidik siswanya sehingga tercapailah tujuan dari belajar. Seperti dikatakan oleh Slameto dalam bukunya Belajar dan Faktor Yang Mempengaruhinya menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Secara profesi, guru dianggap berhasil jika siswanya dapat mencapai kriteria ketuntutasan minimal yang ditetapkan dan juga siswanya menjadi lebih sopan, santun dan lebih dekat kepada Sang Penciptanya. Sehingga tak perlu dikhawatirkan nasib generasi masa depan yang tak baik.

Guru dan Menulis
Sebagai seorang yang senantiasa mengajarkan ilmu, alangkah lebih baiknya jika ilmu yang diajarkan itu pun diabadikan dalam sebuah tulisan. Apakah berbentuk buku, atau hanya berupa artikel. Bukan hanya sebagai saksi bahwa kita pernah hidup di dunia ini, tapi lebih kepada penurunan ilmu yang bisa menjangkau ke seluruh penjuru negeri bahkan dunia. Daerah-daerah yang sulit dijangkau, bisa mendapatkan hak yang sama dalam menimba ilmu meskipun tidak secara langsung mendengarkan dari gurunya. 

Jika guru-guru kita dulu tidak menulis, mungkin kita tidak akan mengenal banyak ilmu seperti sekarang ini lewat buku-buku dan tulisan lepasnya. Sebut saja, Buya Hamka, seorang guru agama di sebuah sekolah swasta yang juga menulis buku. Sampai hari ini, kita masih mengenalinya dan mendapatkan ilmu-ilmu yang sekiranya relevan dengan keadaan kita saat ini. Sebut saja yang lainnya, Imam Syafi’i, Abu Hanifah dan lain-lain. Mereka adalah guru dari guru-guru besar yang pernah hidup di dunia ini. Tak kan kita temukan kitab-kitab kuning di pesantren jika para guru tak menulis.

Ali bin Ali Thalib mengatakan, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” Mulai dari sekarang, kita para guru dan yang mengaku guru, menulislah! Agar ilmu-ilmu yang kita miliki tak hilang begitu saja seperti ucap yang dibawa angin. Tulislah tentang ilmumu, pengalamanmu, anak didikmu, dan pelajaran apa saja yang kau dapat dari ladang akhirat ini. 

Terakhir, selamat hari guru nasional untuk seluruh guru di Indonesia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Udah baca kan? Kasih komentar ya biar kedepannya makin baik lagi. Terima kasih.