Kamis, 08 Desember 2016

Perjalanan pulang ke Jakarta dari Yogyakarta

Kutoarjo

Sekarang aku sedang berada di dalam kereta api. Pas banget sedang berhenti di Stasiun Kutoarjo. Kali ini kami sengaja mengambil kelas ekonomi. Berhubung persediaan uang semakin menipis. Hahah. Gayanya ala backpaker tapi alhamdulillah rezeki dari allah, backpakernya hanya sebagian. Ya, sebagian. Beberapa tempat yang kami kunjungi dibantu oleh sodaranya Nur dan juga Mbak Ana beserta keluarganya. Aku akan ceritakan satu per satu perjalananku selama mengunjungi Jogja dan sekitarnya.

Sebenernya aku gak terlalu fokus dan niatan buat nulis malam ini. sebenar-benarnya keadaan, aku itu ngantuk lho. Berat plus laper juga. Tapi apalah daya, kayaknya aku bakalan jaim malam ini karena di depanku duduk seorang bapak yang usianya kulihat masih segar bugar. Sementara Kak Anggi dan Nur duduk masing-masing di kursi 19a-19b dan 20a-20b. Sesekali kulihat bapak yang duduk di hadapanku dari kaca di samping kursi Kak Anggi. Bapak itu sedang asyik memainkan smartphone-nya. Dari tadi lagi. Kadang tertawa melihat smartphonenya. Bapak itu duduk di 19c-19d sendiri dan aku duduk di 20c-20d sendiri pula. Padalah ya tadinya aku itu duduk deketan dengan Nur.

Eh, terputus tulisannya gegara ada petugas pemeriksaan kereta api. Salah fokus lagi. habis petugasnya cakep kayak artis korea, badannya juga tegap. Aku sempat memperhatikan namanya pas dia udah selesai memeriksa karcis sampai belakang. begitupun petugas pengawalnya. yang muda ya karena ada di hadapanku. Sementara pengawal yang satunya yang berdiri di dekatku aku tak bisa melihat namanya.

Ah, mendadak aku takut melihat bapak yang duduk empat kursi di seberangku. Serem mukanya. Salah fokus lagi. Biasa, rada2 agak takut naik kelas ekonomi. Tapi ya, kelas ekonomi sekarang lebih kurang dengan bisnis, sudah sama-sama menggunakan ac, tapi bedanya hanya tempat duduknya saja. Ekonomi harus berhadap-hadapan kayak yang ditayangkan di film 5 cm. Aku tuh ya mengkhayal kalau-kalau kita duduk sekeluarga di hadap-hadapan berempat sama suami dan anak. Eh, kalau aku ngantuk aku nyandarnya ke suami aja, gak usah ke bantal. hehehe.

Tiba-tiba aku salah fokus lagi karena ada penumpang yang baru naik dan bau badannya menyengat. Eh, mau muntah. aku asal aja nulis apa yang ku rasa.

Bapak di hadapanku semakin asyik dengan smartphonenya. malahan tertawa-tawa gede sekarang. Agaknya ia sedang nonton you tube. Suara musiknya cukup kuat nyampe ke telingaku. Setelah kuperhatikan dengan seksama, bapak itu mirip Ustad Bachtiar Nasir (UBN). Salah fokus lagi deh gw. Tapi beneran. Sempet berpikiran beneran bahwa bapak itu mungkin ada hubungan sodara dengan ustad bachtiar nasir. Tapi rasa-rasanya kok gak mungkin yak. Heheh. No reason for it. Cuman bedanya bapak ini dengan UBN. Postur tubuhnya, si bapak ini rada lebh kecil dan gak segagah UBN deh.

Itu dulu yang bisa aku posting untuk malam ini berhubung aku rada-rada takut menyalakan laptop lama-lama. Besok-besok aku ceritakan legkap perjalanan backpaker ala khawat kece kayak kami ini. Backpaker dengan ransel dan koper besar. Lengkap dah. heheh. Biar kamu tahu, aku ngetik ini diiringi kretek2 dari bawah n atas kereta. Ngeri2 sedap. Resiko dapat gerbong paling akhir di kereta kelas ekonomi.

Catatan aku dari Stasiun Kutoarjo dan sekarang sedang berhenti di Stasiun Kebumen. Ikutin terus cerita perjalanan aku yak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Udah baca kan? Kasih komentar ya biar kedepannya makin baik lagi. Terima kasih.